Pencarian

    Kata Kunci :
    Periode : s/d

    Prosiding

    Suara Perempuan Kemana?: Tantangan Keterwakilan Perempuan Dalam Pemilu 2014

    Penulis : Arianti Ina R.H.
    Bidang Ilmu : Sosiologi
    Unit Penulis : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi
    Nama Kegiatan : KONFERENSI NASIONAL SOSIOLOGI III ASOSIASI PROGRAM
    Penyelenggara : Jurusan Sosiologi Universitas Gajah Mada
    Tanggal Kegiatan : 22-05-2014
    Lokasi Kegiatan : Yogjakarta
    Url : http://konferensi.apssi-sosiologi.org/
    Sinopsis

    Perempuan merupakan salah satu kelompok pemilih terbesar dalam pemilu dan suara mereka menentukan calon legislatif tahun 2014. Jumlah perempuan di DPR telah meningkat dari 11,09 persen pada pemilu 2004 menjadi 17,86 persen pada pemilu tahun 2009. Namun peningkatan tersebut masih jauh dari kuota perempuan 30 persen. Pada Pemilu 2014, apakah perempuan memilih calon legislatif perempuan? Pertanyaan ini menjadi relevan bila dikaitkan dengan kinerja legislatif perempuan ditengah masih banyaknya produk UU yang belum pro perempuan atau belum sensitif gender. Situasi diperburuk dengan legislatif perempuan dan pimpinan perempuan yang terbelit dalam kasus korupsi. Hal ini menjadi kontra produktif dengan upaya mencapai target keterwakilan perempuan sebesar 30 % di DPR. Salah satu hal mendasar kelemahan perempuan baik sebagai pemilih dan calon legislatif (caleg) adalah tidak memiliki pengetahuan politik yang cukup dalam upaya memperjuangkan suara mereka. Oleh karenanya, pendidikan politik pemilih perempuan menjadi penting dalam upaya menjadikan mereka pemilih yang cerdas, artinya dapat menyalurkan suara mereka secara independen dan rasional. Pada sisi yang lain adalah pendidikan politik bagi caleg dalam upaya menemu kenali persoalan dan kebutuhan perempuan, serta menuangkan dalam program strategis untuk menggalang suara perempuan. Paper ini memaparkan; 1) pentingnya pendidikan politik pemilih perempuan; 2) relevansi pendidikan politik perempuan dan peningkatan keterwakilan perempuan di DPR dalam pemilu tahun 2014.  Paper ini ditulis berdasarkan penelitian kualitatif dengan menggunakan studi kasus pada pemilih perempuan marginal di Kota Salatiga. Hasil awal penelitian menujukan bahwa pemilih perempuan, khususnya perempuan marginal belum mendapat perhatian yang serius dalam pesta demokrasi oleh para caleg, khususnya caleg legislatif. Sebagian pemilih perempuan belum mendapatkan pendidikan politik pemilih dalam upaya untuk membangun suara perempuan dan memecahkan persoalan perempuan dalam masyarakat. Perubahan kondisi perempuan ditentukan oleh kualitas pemilu yang dimulai sejak awal melalui pendidikan pemilih dan pemilu, serta mengawal hasilnya untuk memperjuangnya kondisi masyarakat, khususnya perempuan melalui peluang keterwakilan perempuan sebanyak 30 %.

    Download