Pencarian

    Kata Kunci :
    Periode : s/d

    Penelitian

    Model Tranformasi 'Putting-Out Sistem: Peningkatan Daya Saing Industri, Pemberdayaan dan Perlindungan Pekerja Rumahan Dari Perspektif Gender (studi Kasus Batik di KLuster Surakarta-Sragen-Sukohardjo)

    Penulis : Arianti Ina R.H. dkk
    Bidang Ilmu : Sosiologi
    Unit Peneliti : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi
    Jenis Penelitian : Lain-lain
    Contact Person : Arianti Ina Restiani Hunga
    Email Contact : inahunga@gmail.com
    Keyword : batik, kimia-warna alam, IT-ICT
    Abstraksi

    Batik bukan sekedar komoditi tetapi memiliki makna ganda dan sudah menjadi identitas bangsa Indonesia. Sistem “Puting-Out” (POS) sudah lama ada & dipakai dalam industri batik. Sejak krisis ekonomi POS dalam industri batik, mengalami transformasi (secara alamiah), menjadi penting tetapi belum menciptakan kinerja dan daya saing industri batik yang lebih baik. Disisi lain memarginalkan pekerjanya (home-workers) khususnyu perempuan, batik sebagai komoditi yang multi makna, dan lingkungan. Khususnya batik tulis (tradisional) termarginalkan ditengah derasnya tekstil batik (printing) baik didalam Indonesia sendiri maupun import. Derasnya tekstil batik dan batik yang menggunakan zat kimia berdampak pad kerusakan lingkungan. Masyarakat masih banyak yang tidak paham batik karena kurangnya informasi tentang komoditi ini. Penelitian ini mengembangkan model transformasi melalui trranfer inovasi & teknologi pada tiga komponen dalam industri batik berbasis POS (komoditi/produk, SDM (pengusaha & pekerja), & kelembagaan) untuk mencapai daya saing industri batik strategis, peningkatan kapasitas SDM Pengusaha & pekerja), & perlindungan (Home-workers) & konsumen. Penelitian ini dari pendekatan ilmu yang interdisiplin. Menggunakan metode penelitian participatory action research from gender and environmental perspective. Hasilnya adalah model yang diterapkan dapat mendorong proses transformasi yang menciptakan peningkatan kapasitas dan daya saing industri batik,  serta pemberdayan pelaku (pengusaha & pekerja) didalamnya. Namun model ini perlu dikembangkan lebih lanjut karena perlindungan terhadap pekerja (home-woekrs) belum terbangun secara baik dan tersistem.