Pencarian

    Kata Kunci :
    Periode : s/d

    Penelitian

    Model Pengembangan Sentra Kreatif Batik di Jawa Tengah: Riset-Aksi Partisipatif dalam Revitalisasi, Inisiasi, dan Transformasi Industri Batik Berbasis "Putting-Out" Sistem yang Berwawasan Gender (Kasus di Industri Mikro-Kecil-Menengah di Jawa Tengah)

    Penulis : Arianti Ina R.H. dkk
    Bidang Ilmu : Studi Pembangunan
    Unit Peneliti : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi
    Jenis Penelitian : Lain-lain
    Contact Person : Arianti Ina R.H.
    Email Contact : ina.hunga@staff.uksw.edu
    Keyword : batik, sentra kreatif batik, perempuan
    Abstraksi

    Restrukturiasi ekonomi global mendorong mendorong industri menjadi bentuk kelembagaan usaha yang fleksibel dan effisien yaitu menggunakan “putting-out” system (POS). Melalui POS, sebagian besar proses produksi yang sebelumnya dalam perusahaan dipindahkan ke rumah Pekerjanya (home-workers disingkat HW). Hal ini berarti memindahkan biaya produksi pada level pekerja dan keluarganya. Jenis industri ini merambah dalam banyak komoditi, seperti batik, tenun, konveksi, meubel, kulit, tanah (gerabah, dll), makanan, monel, dll. Oleh karena sebagian besar pelaku (pekerja) dalam industri berbasis POS ini adalah perempuan dan aktifitasnya berada dalam/sekitar rumah mereka maka salah satu kompleksitas didalamnya terkait dengan isu gender. Jenis industri berbasis POS (disingkat industri-POS)  di Indonesia telah lama tetapi sejak krisis menjadikannya semakin meningkat, penting, meningkat, kompleks, dan berbeda dengan industri berbasis POS pada umumnya. Hal ini menunjukan bahwa POS mengalami proses transformasi yang penting dan berimplikasi pada posisi dan peran Pekerja Rumahan menjadi semakin penting. Namun fenomena POS dan HW masih ”disembunyikan“/“tersembunyi” dari berbagai pihak. Implikasinya belum ada kebijakan yang secara jelas mengarah pada pemberdayaan dan perlindungan mereka. Ada fakta yang kontras, HW dan keluarganya memainkan peran penting untuk mendukung industri agar tetap “bertahan” dan eksis namun mereka termarginalkan dalam sistem ini. Nilai tambah dalam rantai bisnis banyak dinikmati oleh pelaku bisnis dalam rantai ini. Hal ini berimplikasi pada kinerja industri mikro-kecil-kecil (IMKM) berbasis POS dan HW masih rendah, seperti tampak dalam persoalan; daya saing, produksi dan produktifitas, kontinuitas usaha dan kerja, berpotensi terhadap persoalan ketenagakerjaan (HW tidak tercatat sebagai tenaga kerja dan tidak dilindungi UU Ketenagakerjaan), penguasaan teknologi, issue gender, issue lingkungan berkaitan dengan ekolabel, penggunaan bahan kimia beresiko pada kesehatan, limbah zat warna, dan pencemaran lingkungan lainnya. Melihat fenomena ini, sejak tahun 1999, Industri berbasis POS dan pekerjanya (HW) menjadi topik penelitian penulis di bawah Pusat Penelitian dan Studi Gender – Universistas Kristen Satya Wacana. Penelitian diawali pada industri berbasis POS pada 9 komoditi unggulan di Jawa Tengah dan sejak tahun 2004-sekarang, penulis fokus pada industri berbasis POS yang mengolah batik dan produk lanjutan dari batik. Salah satu hal yang masih menjadi persoalan mendasar adalah aspek kelembagaan dan pelembagaan untuk mendorong pengembangan sentra kreatif batik yang mendorong daya saing industri batik berbasis POS, SDM didalamnya (pengusaha dan HW), dan batik sebagai produk andalan dan identitas bangsa Indonesia. Sehubungan dengan itu, program riset-aksi yang diajukan dalam skim ini bertujuan memperoleh Model Pengembangan Sentra Kreatif Batik di Jawa Tengah. Oleh karenanya metode penelitian yang digunakan penggunakan metode riset-Aksi partisipatif yang menekankan strategi revitalisasi, inisiasi, dan tranformasi POS yang berwawasan gender. Penekanan akan dilakukan pada tiga hal secara komprehensif, yaitu;(1) transformasi SDM yang menekankan pada entrepreneurship dan kompetensinya dalam kompleksitas industri kreatif yang menekankan inovasi, ruang/pasar yang menekankan pencitraan (makna), dan jejaring, (2) transformasi produk batik untuk pengembangan produk yang menekan value added dan value change batik sebagai komoditi material maupun non material (modal sosial dan identitas bangsa) yang membutuhkan jenis pasar yang luas dan spesifik, khususnya pasar ”alternatif” (fair trade), dan (3) transformasi kelembagaan yang menekankan pada; a) penataan rantai produksi, b) ruang dan jejaring pasar melalui teknologi komputer (internet), dan c) serta jejaring usaha (vertikal dan horisontal) dalam jejaring usaha yang luas (networking entreprises). Ketiga aspek ini dalam upaya membangun Sentra Kreatif Batik yang mendorong penciptaan ruang (area) kreatif batik yang tidak hanya mengandalkan batik sebagai komoditi semata tetapi sekaligus modal sosial dan indentitas bangsa, serta memberikan ruang yang luas bagi kreasi dan apresiasi aktor dan batik didalamnya yang menekankan keadilan dan kesetaraan gender. Industri batik berbasis POS mengandalkan sumberdaya manusia dan modal sosial didalamnya yang dalam perkembangannya menjadi basis perkembangan industri kreatif. Hal ini menjadi penting karena dalam industri kreatif pada pelaku didalamnya didorong untuk menghasilkan produk yang tidak hanya mengandalkan kemanfaatan ekonominya tetapi membangun makna dan citra. Industri kreatif telah menjadi sektor andalan pemerintah yang tertuang dalam kebijakan pengembangan industri kreatif di Indonesia. Salah satu sub-sektor industri kreatif adalah batik yang merupakan produk dari kearifan lokal dan mendapat perhatian luas seiring dengan pengakuan UNESCO terhadap Batik sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia dan terbukti menjadi basis ekonomi rakyat yang bertahan dan berkembang sampai sekarang ini.

    Dokumentasi